Wisatawan Asing Membludak, Hotel di Bali Tetap Sepi? PHRI Ungkap Penyebabnya
- account_circle admin
- calendar_month Senin, 12 Jan 2026
- print Cetak

Wisatawan Asing di Bali Membeludak/Foto : Info Balinese
INFO BALINESE– Ramainya kunjungan wisatawan asing ke Bali belakangan ini ternyata tidak sepenuhnya membawa angin segar bagi pelaku industri perhotelan. Di tengah lonjakan wisatawan, tingkat hunian hotel justru dinilai tidak tumbuh signifikan. Salah satu isu yang kerap disorot adalah maraknya vila dan homestay ilegal yang disebut menjadi pilihan utama turis beranggaran terbatas. Namun, pelaku usaha menilai persoalan tersebut lebih kompleks.
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah wisatawan berjalan beriringan dengan melonjaknya pasokan akomodasi. Pertumbuhan hotel, vila, apartemen, kondotel, hingga guesthouse membuat persaingan semakin padat.
Menurut Rai, kenaikan kunjungan wisatawan asing sekitar 11 persen tidak otomatis meningkatkan okupansi hotel, karena suplai kamar juga meningkat tajam. Kondisi ini membuat pasar menjadi lebih kompetitif dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Selain itu, profil wisatawan yang datang ke Bali juga mengalami perubahan. Saat ini, sebagian besar wisatawan asing berasal dari segmen menengah ke bawah yang sangat mempertimbangkan harga. Kelompok ini cenderung memilih vila, guesthouse, atau apartemen yang lebih terjangkau, sementara hotel berbintang hanya disasar sebagian kecil wisatawan.
Meski demikian, Rai tidak menampik adanya praktik pengelolaan akomodasi ilegal, khususnya yang melibatkan oknum warga negara asing. Ia menyebut, ada kasus di mana orang asing menyewa vila atau guesthouse, lalu menyewakannya kembali kepada wisatawan melalui platform daring. Praktik ini menyulitkan pemerintah memungut pajak karena transaksi dan aliran dana dilakukan melalui rekening di luar negeri.
Situasi tersebut diperkirakan akan membuat persaingan usaha akomodasi di Bali semakin ketat, terutama pada 2026. Rai menegaskan bahwa pelaku industri harus memiliki strategi yang matang agar mampu bertahan di tengah kompetisi yang semakin keras, baik dengan sesama pelaku lokal maupun pemain asing.
Ia juga menilai kondisi pariwisata saat ini berbeda dengan masa pascapandemi Covid-19. Saat itu, wisatawan memiliki keinginan besar untuk berlibur dan cenderung berbelanja lebih banyak setelah lama tertahan. Kini, wisatawan dinilai lebih berhati-hati dalam pengeluaran dan mulai mempertimbangkan destinasi alternatif selain Bali.*
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar