Jumat, 31 Jul 2026
light_mode

Media Belanda hingga Influencers Luar Soroti Kasus Entourage di Bali, Tuding Harusnya Respek ke Warlok

  • account_circle admin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

INFO BALINESE – Bali selama bertahun-tahun dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia yang ramah bagi wisatawan, ekspatriat, dan pekerja digital dari berbagai negara. Keberagaman itu menjadi salah satu daya tarik Pulau Dewata. Namun, sebuah komunitas lari justru memicu kontroversi yang berkembang jauh melampaui dunia olahraga.

Nama Entourage Bali menjadi sorotan setelah muncul dugaan bahwa warga negara Indonesia mengalami penolakan saat ingin bergabung dengan komunitas tersebut, sementara warga negara asing justru lebih mudah diterima. Polemik itu memicu kritik luas di media sosial hingga berujung pada tindakan tegas pemerintah Indonesia terhadap dua pendiri komunitas asal Belanda.

Dugaan Penolakan Warga Indonesia Memicu Polemik

Kontroversi bermula ketika sejumlah warga Indonesia membagikan pengalaman mereka di media sosial setelah mencoba bergabung dengan Entourage Bali. Mereka mengaku permohonan keanggotaan tidak disetujui, sedangkan warga negara asing yang mendaftar pada waktu hampir bersamaan disebut berhasil diterima.

Salah satu kisah yang ramai diperbincangkan datang dari seorang perempuan Indonesia melalui platform Threads. Ia mengaku menerima pemberitahuan bahwa permohonannya akan ditinjau terlebih dahulu. Sebaliknya, sang suami yang menggunakan nama bergaya Barat dan nomor telepon luar negeri disebut langsung memperoleh persetujuan.

Keluhan serupa kemudian bermunculan. Bahkan, muncul dugaan bahwa sistem pendaftaran otomatis menolak pengguna dengan nomor telepon Indonesia berkode +62 maupun nama yang diidentifikasi sebagai warga Indonesia.

Situasi tersebut memicu kemarahan publik. Banyak pihak menilai komunitas tersebut telah menciptakan ruang yang eksklusif bagi warga asing di Bali, sementara masyarakat lokal justru merasa tidak diterima di daerahnya sendiri.

Entourage Bali Bantah Lakukan Diskriminasi

Di tengah derasnya kritik, Entourage Bali membantah tudingan telah sengaja mengecualikan warga Indonesia.

Melalui pernyataan resminya, komunitas tersebut menyatakan seluruh kegiatan terbuka bagi siapa pun tanpa membedakan kewarganegaraan. Bahkan, mereka mengklaim peserta asal Indonesia merupakan kelompok terbesar dalam berbagai kegiatan yang telah diselenggarakan.

Menurut Entourage Bali, persoalan terjadi akibat kesalahan pada sistem persetujuan otomatis untuk grup WhatsApp. Gangguan tersebut disebut membuat sejumlah nomor telepon Indonesia berkode +62 secara keliru ditolak.

Pihak penyelenggara juga menjelaskan bahwa komunitas tersebut dibentuk untuk membantu pendatang baru di Bali membangun relasi dan mengikuti berbagai kegiatan sosial selama berada di pulau tersebut. Sebagai bentuk evaluasi, seluruh kegiatan untuk sementara dihentikan sambil dilakukan perbaikan terhadap sistem yang digunakan.

Namun, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan keraguan publik. Seorang peserta yang diwawancarai media Australia mengaku mayoritas peserta kegiatan didominasi warga Barat dan hampir tidak melihat peserta dari negara-negara Asia lainnya.

Acara Digelar Tanpa Izin, Pendiri Asal Belanda Dicekal

Di luar dugaan diskriminasi, penyelidikan pemerintah Indonesia menemukan persoalan lain yang tidak kalah penting. Acara silent disco run yang diselenggarakan Entourage Bali diketahui berlangsung tanpa memenuhi perizinan yang dipersyaratkan. Direktorat Jenderal Imigrasi kemudian menyatakan dua pendiri komunitas asal Belanda berusia 35 dan 37 tahun telah melanggar ketentuan keimigrasian.
Sebelum tindakan resmi diumumkan, kedua pendiri yang diidentifikasi media sebagai Hidde dan Joost telah meninggalkan Bali menuju Singapura.

Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, menyatakan pihaknya telah memerintahkan jajaran Imigrasi Bali untuk menyelidiki penyelenggara kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa warga negara asing tidak diperbolehkan menjadi penyelenggara kegiatan di Indonesia tanpa memenuhi aturan yang berlaku.

Sebagai konsekuensinya, kedua warga negara Belanda tersebut dijatuhi sanksi berupa larangan memasuki wilayah Indonesia.

Ramai Dikritik Influencer Internasional

Polemik Entourage Bali tidak hanya menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Kasus tersebut juga ramai dibahas oleh sejumlah kreator konten dari berbagai negara yang menggunakan tagar #DutchNews.

Salah satunya adalah kreator konten Santanamatheus. Ia mengaku tidak dapat membayangkan sebuah acara lari yang digelar oleh warga negara asing, tetapi justru tidak mengizinkan warga negara tempat acara tersebut diselenggarakan untuk ikut berpartisipasi.

“That’s something I could never imagine myself doing. I would never exclude Dutch people. If I do something like this, I don’t even know what will be happening to me,” ujarnya.

Kritik juga datang dari kreator konten @/rogierbak. Menurutnya, tindakan yang diduga dilakukan oleh dua warga Belanda tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan. Ia bahkan mengaitkannya dengan sejarah kolonial Belanda melalui VOC.

Sementara itu, influencer o_alsharhan menilai setiap pendatang memiliki kewajiban untuk menghormati hukum, budaya, dan masyarakat di negara yang dikunjungi. Menurutnya, warga asing tidak seharusnya mengelompokkan diri sebagai komunitas ekspatriat yang eksklusif, melainkan membangun hubungan yang lebih terbuka dengan masyarakat setempat.

Ramainya pembahasan dengan tagar #DutchNews menunjukkan bahwa kontroversi ini telah melampaui isu lokal dan berkembang menjadi perbincangan internasional mengenai etika warga negara asing saat tinggal maupun menyelenggarakan kegiatan di negara lain.

Sorotan terhadap Komunitas Ekspatriat di Bali

Kasus Entourage Bali kembali memunculkan perdebatan mengenai keberadaan komunitas ekspatriat dan pekerja digital (digital nomad) di Bali.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pulau Dewata menjadi salah satu tujuan utama pekerja jarak jauh dari berbagai negara. Kehadiran mereka memberikan dampak ekonomi melalui sektor pariwisata, kuliner, hingga penyewaan properti.

Namun, di sisi lain, muncul keluhan bahwa sebagian warga asing membangun komunitas yang tertutup, kurang berbaur dengan masyarakat sekitar, bahkan dianggap mengabaikan norma maupun aturan lokal.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, polemik ini juga mengingatkan kembali pada sejarah panjang hubungan Indonesia dan Belanda. Dugaan bahwa warga lokal merasa tersisih oleh penyelenggara asal Belanda dinilai membangkitkan kembali luka sejarah kolonial yang masih membekas dalam ingatan kolektif.

Senator asal Bali, Niluh Djelantik, turut menyoroti polemik tersebut melalui media sosial. Ia mengingatkan bahwa keramahan masyarakat Indonesia tidak boleh dimaknai sebagai keleluasaan untuk merendahkan ataupun mengecualikan warga lokal.

Pemerintah Bali Perketat Pengawasan
Merespons polemik tersebut, Gubernur Bali menyatakan akan memperketat pengawasan terhadap berbagai aktivitas yang diselenggarakan warga negara asing. Langkah itu dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi kegiatan yang berpotensi mendiskriminasi masyarakat Indonesia maupun mengabaikan ketentuan hukum yang berlaku.

Kasus Entourage Bali pada akhirnya tidak lagi dipandang sekadar persoalan sebuah komunitas olahraga. Peristiwa ini berkembang menjadi pengingat bahwa keterbukaan Bali terhadap dunia harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap masyarakat lokal, budaya, dan hukum yang berlaku di Indonesia.*

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less